Kelemahan Ikut Tren Dalam Berbisnis

Ada berapa banyak kedai atau kafe di Indonesia? Tidak terhitung jumlahnya. Bisa dikata pada masa sekarang ini yang namanya tempat ngopi itu ada di setiap sudut jalan. Tidak jarang juga satu kedai kopi dan yang lainnya bahkan bersebelahan.

Di Kota Bogor saja, dimana saya tinggal, setidaknya ada 300 ratusan usaha sejenis ini bertebaran di seluruh penjuru.

Jumlah ini menjamur sejak beberapa tahun terakhir, penyebabnya, banyak orang ikut tren berbisnis segala sesuatu yang berkaitan dengan kopi. Bisnis kedai kopi dianggap sebagai memiliki prospek yang cemerlang di masa datang seiring dengan perubahan pola hidup masyarakat.

Sekarang, tidak sedikit dari usaha itu bertumbangan, menghilang dari peredaran, dan bangkrut alias tidak lagi beroperasi. Banyak orang harus melihat modal yang ditanamkannya hangus begitu saja tanpa memberikan apa-apa kepada dirinya.

Kok bisa?

Yah, bisa saja. Namanya juga sebuah bisnis atau usaha, tidak pernah ada jaminan akan selalu berhasil. Peluangnya adalah 50:50, kegagalan dan keberhasilan akan mendapatkan porsi yang sama. Peluang untuk berhasil akan membesar dengan kreativitas, kerja keras, dan usaha dari si pemilik usahanya.

Hanya saja, peluang tersebut bisa sedikit diperbesar atau diperkecil pada langkah awal pendirian usaha tersebut. Pemilihan jenis usaha bisa menjadi salah satu kunci keberhasilan atau kegagalan yang kadang tidak disadari.

Nah, salah satu cara, yang umum diikuti sebenarnya bisa memperkecil peluang keberhasilan. Cara umum itu adalah dengan mengikuti tren jenis usaha yang sedang booming.

Boomingnya bisnis kedai kopi adalah salah satu contoh yang bagus tentang pola mengikuti tren yang dilakukan banyak orang dalam menentukan jenis usahanya.

Pemikirannya sederhana dan tidak salah. Mirip sekali dengan pepatah ada gula ada semut.

Banyak orang melihat keberhasilan bisnis usaha di bidang kuliner ini. Mereka melihat bahwa berduyun-duyun orang datang untuk kongkow dan nongkrong di kafe. Banyak berita tentang keberhasilan usaha-usaha ini di media.

Lalu, timbul pikiran? Ah, kenapa tidak? Pasarnya pasti besar. Buktinya mereka yang sudah terjun bisa berhasil dan mendapatkan keuntungan. Lagi pula apa susahnya sih? Menyediakan kopi, wi-fi, dan mendapatkan sertifikat barista.

Saya juga pasti bisa.

Tapi, mayoritas lupa beberapa hal lain, yang merupakan kelemahan dari ikut tren yang sudah ada, seperti

  • mereka berada pada posisi pengikut : mereka yang ikut tren berada pada posisi lebih lemah dan harus bersaing dengan kedai-kedai kopi yang sudah terkenal . Hal ini akan menghadirkan kesulitan untuk mempromosikan usaha yang dbangunnya karena tentu saja pelanggan akan memilih pergi ke kedai kopi yang sudah punya nama dibandingkan yang belum mereka ketahui
  • persaingan sudah tinggi dan semakin meninggi : berapa banyak orang yang melihat dengan cara yang sama, yaitu bisnis kedai kopi adalah bisnis yang menjanjikan? Bisa puluhan ribu. Dan, mereka pun akan melakukan hal yang sama, mendirikan kedai kopi versi mereka. Persaingan meninggi karena jumlah yang mendirikan usaha kopi semakin banyak. Dan, akan semakin banyak karena mereka-mereka yang berpikir dengan cara itu masih akan terus bermunculan
  • pasar yang jenuh : dengan semakin banyaknya kedai kopi yang bermunculan, pasar menjadi jenuh karena suplai terus berdatangan. Padahal, pembeli mungkin tidak bertambah dengan cepat. Tidak berarti tidak ada, tetapi porsi jumlah pelanggan untuk setiap kedai kopi akan mengecil karena diperebutkan oleh banyak kedai kopi. Ibaratnya kue yang tadinya hanya dibagi 10 orang, sekarang dibagi untuk 30 orang.
  • biaya tinggi : banyak yang lupa memperhitungkan biaya promosi yang akan meninggi dan terus meninggi. Tingkat persaingan yang luar biasa besar akan membutuhkan usaha yang luar biasa besar juga. Ibaratnya, kalau berada dalam kerumunan 1000 orang, seseorang harus berteriak dengan sangat keras untuk mendapatkan perhatian. Dalam bisnis dengan tingkat persaingan seperti ini harus melakukan usaha ekstra dalam mempromosikan usahanya dan tentunya hal itu tidak murah. Promosi pasti membutuhkan biaya dan akan membesar seiring dengan tingkat persaingan. Semuanya demi mendapatkan perhatian dari calon pembeli
  • Tren itu singkat : yang namanya tren biasanya bersifat sementara dan tidak seterusnya. Tren hari ini biasanya akan berganti dengan tren yang lain 3-4 tahun kemudian. Pada saat itu, pasar yang ada otomatis akan mengecil karena kepopulerannya sudah surut dan digantikan oleh tren berikutnya. Contohnya adalah bisnis tanaman hias, satu saat anthurium atau aglaonema pernah merajai, tetapi 4-5 tahun kemudian, berganti dengan philodendron. Jumlah pembeli akan menyusut juga karena mereka beralih selera dan minat

Bisnis yang dibangun dengan mengikuti tren pada dasarnya bukanlah sesuatu yang salah. Banyak sekali usaha sukses meski awalnya didirikan dengan pola ikut-ikutan saja.

Hanya saja, biasanya mereka yang sukses itu berhasil mengatasi kelemahan-kelemahan yang dihasilkan oleh sebuah bisnis ikutan seperti disebut di atas. Mereka memperhitung sejak awal dan bersedia bekerja 2-3 kali lipat lebih keras.

Nah, maukah Anda melakukan itu?

Leave a Comment